dengan aPengalaman pertama berdansa dengan seorang pria di depan umum tanggal 19 Mei 2005, pasangan ku adalah Dr. Richard Ratka. Saat itu aku sedang duduk menikmati musik sambil melihat Dr. Ratka dan Sarah Hoeflich berdansa. Ketika aku dan Pak Asikin, dari Pemda Kab. Bima sedang membicarakan betapa lincahnya sang doktor berdansa tiba-tiba aku dan Pak Asikin ditarik oleh mereka berdua ke lantai dansa. Kami berdua tentu saja memberontak namun hanya Pak Asikin yang berhasil mengelak setelah menunjukan betapa ggerakan badannya kaku, Pak Asikin berhasil lepas dari Sarah kemudian digantikan dengan Pak Bagus, Dosen muda dari UGM. Kebetulan Irama pelan, walau demikian berkali-kali aku menginjak kaki Dr. Ratka, tentu saja aku ikuti dengan permohonan maaf atas setiap kejadian tersebut terjadi. Kemudian berganti dengan irama lagu riang yang tentu saja temponya cepat, terus terang dalam kedua irama tersebut aku buta sama sekali. Namun aku lebih bebas karena gerakannya lebih energik dan aku dapat bergerak lebih leluasa. Aku hanya mengikuti arahan dari doktor Ratka. Tangan kanannya membimbing badanku untuk bergerak ke kanan dan ke kiri, ataupun berputar. Kekakuanku mencair, aku berusaha melenturkan badan mengikuti musik dan bimbingan dari Doktor Ratka. Kulihat Dr. Bagus dan Sarah menari dengan memegang tangan kanan dan kiri sambil berputar, seperti permainan kanak-kanak menyambut bulan purnama. Dietrich bersama istrinya berdansa dengan sangat energik, mereka dari awal hingga akhir terus berdansa dengan berbagai teknik, yang tentunya tidak aku kenal. Grogi sih, but Its such a fun! Beberapa mata memandangku dengan tatapan aneh, tentu saja aneh, wong aku pake jilbab tapi kok dansa ama bule. Pastinya aku kikuk, ya dari tatapan orang-orang, dari kebutaan ku tentang tatacara berdansa, serta perang batin dalam fikiranku. Dua orang bule yang sedang main biliar berhenti menatapku dengan pandangan yang aku tidak mengerti, mungkin aneh, mungkin terkejut, mungkin heran atau perpaduan antara ketiganya. Gila! I’m crossing the border!! Dansa gitu loh….. Hingga saat ini aku bukan seorang gadis memakai jilbab yang dapat dengan gampang di peluk-peluk lelaki yang bukan muhrimnya. Namun saat itu rasa penasaranku mengalahkan nilai yang ku pegang saat itu. Ternyata rasanya tidak begitu buruk, lagi pula ada space antara aku dan Dr. Ratka so it not cheek to cheek dance…… Sesudah selesai aku mengucapkan dan mendapat ucapan terima kasih dari Dr. Ratka, perasaan lega, perasaan malu, perasaan senang menjadi satu. Aku kembali kemeja dan langsung meminum segelas air putih yang masih tersisa di meja ku tadi. Setelah mengobrol sebentar aku berjalan menuju buffet mengambil buah-buahan.. Ketika aku berjalan menuju meja ku, Prof. Scotti mengatakan, “congratulation you are good actrees there!” Di meja aku kembali mengobrol dan kemudian memikirkan arti ucapan Prof. Scotti, mengapa dia mengatakan hal tersebut, apakah aku terlihat sedang memerankan suatu lakon, entahlah, yang jelas ucapannya membawaku pada perasaan bersalah karena aku sepertinya telah mengkhianati keyakinanku. Mungkin lebih baik sejak awal aku menolak untuk berdansa sehingga aku tidak terjebak pada dilema ini. Atau mungkin juga maksudnya tidak demikian, tapi dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya berdansa dengan pria dewasa, daripada hanya berdansa dengan adik ku Fauzan. :))