Archive for July, 2005

SURGAKU

Thursday, July 28th, 2005

Surgaku dalam belahan udara….
sore itu masih kudengar surgaku mengalun melewati telinga….
halus lembut, namun tetap menyayat…
surgaku berhasil mengetuk kelopak mataku membiarkan airmata lewat

Dalam ruangan berukuran 3 x 3 meter aku memeluk surgaku
tak terbagi dengan siapapun
karena surga itu hanya milikku dan hanya aku yang bisa merasakannya
sambil menghirup secangkir kopi panas
ku terus menikmati surgaku

17:03 02/04/2005

WAITING

Thursday, July 28th, 2005

Can’t hurry love, U ‘ll just have to wait, love doesn’t come easy…………

Kembali lagi merasakan, kedekatan lain namun ada kecemasan sangat, akan hilangnya kesempatan itu.

Betapa menyenangkan merasakan berdebar-debar lagi. Apakah ini yang saya tunggu atau aku hanya ingin membuktikan sesuatu?

Mempunyai prinsip atau NAIVE?

Thursday, July 28th, 2005

Aku baru saja menonton film favoritku, The Way We Were, saat ini akhirnya aku dapat menerima alasan mengapa Huble Gardiner akhirnya meninggalkan Katie Morowski. Bagaimana mungkin ia harus mempertahankan perkawinan dengan terus menerus membunuh sisi lain dari dirinya. Sisi seorang flamboyan, bisa minggle dimana aja, santai menghadapi hidup. Dulu aku sangat membenci si Huble karena dia digambarkan terlalu baik, pengalah dan sebagainya, tapi selingkuh!!! Dasar laki-laki plin-plan! Saat dia gundah bukannya lari pada pacarnya/istrinya tapi dia malah kembali kepacar lamanya. Tapi sekali lagi, aku akhirnya menerima alasan dia tidak tahan lagi pada Katie. Abis Katie-nya terlalu keukeuh sama prinsipnya tidak dapat melihat keadaan sebenarnya yang berlaku. She is too naive.

            Btw, Katie still my favorite girl, although she is jewish, altough she is communist, she has style & belief. Sesuatu yang jarang orang dapat berpegang teguh padanya. Sesuatu yang pada awalnya dibela mati-matin, kemudian seiring dengan berjalannya waktu terlupakan oleh orang, karena mereka merasa akhirnya mereka harus tunduk pada keadaan dan prinsip yang mereka pegang hanyalah indah ketika tertuang dalam buku dan dibaca ketika waktu luang.  Seorang kawan senior yang ketika mahasiswa sangat sosialis, sebulan lalu ketika aku kembali bertemu dengannya, aku tidak dapat menemukan topik apapun untuk dibicarakan karena dia begitu sibuk dengan PDA-nya memantau harga saham dan jika pun ia berbicara ia hanya membicarakan bisnis, komisi dan meminta no. Tel. Pejabat anu-ini. He changes a lot! Or am I too naive saying that I’m still believe to my value??

CROSSING BORDER

Thursday, July 14th, 2005

dengan aPengalaman pertama berdansa dengan seorang pria di depan umum tanggal 19 Mei 2005, pasangan ku adalah Dr. Richard Ratka. Saat itu aku sedang duduk menikmati musik sambil melihat Dr. Ratka dan Sarah Hoeflich berdansa. Ketika aku dan Pak Asikin, dari Pemda Kab. Bima sedang membicarakan betapa lincahnya sang doktor berdansa tiba-tiba aku dan Pak Asikin ditarik oleh mereka berdua ke lantai dansa. Kami berdua tentu saja memberontak namun hanya Pak Asikin yang berhasil mengelak setelah menunjukan betapa ggerakan badannya kaku, Pak Asikin berhasil lepas dari Sarah kemudian digantikan dengan Pak Bagus, Dosen muda dari UGM. Kebetulan Irama pelan, walau demikian berkali-kali aku menginjak kaki Dr. Ratka, tentu saja aku ikuti dengan permohonan maaf atas setiap kejadian tersebut terjadi. Kemudian berganti dengan irama lagu riang yang tentu saja temponya cepat, terus terang dalam kedua irama tersebut aku buta sama sekali. Namun aku lebih bebas karena gerakannya lebih energik dan aku dapat bergerak lebih leluasa. Aku hanya mengikuti arahan dari doktor Ratka. Tangan kanannya membimbing badanku untuk bergerak ke kanan dan ke kiri, ataupun berputar. Kekakuanku mencair, aku berusaha melenturkan badan mengikuti musik dan bimbingan dari Doktor Ratka. Kulihat Dr. Bagus dan Sarah menari dengan memegang tangan kanan dan kiri sambil berputar, seperti permainan kanak-kanak menyambut bulan purnama. Dietrich bersama istrinya berdansa dengan sangat energik, mereka dari awal hingga akhir terus berdansa dengan berbagai teknik, yang tentunya tidak aku kenal. Grogi sih, but Its such a fun! Beberapa mata memandangku dengan tatapan aneh, tentu saja aneh, wong aku pake jilbab tapi kok dansa ama bule. Pastinya aku kikuk, ya dari tatapan orang-orang, dari kebutaan ku tentang tatacara berdansa, serta perang batin dalam fikiranku. Dua orang bule yang sedang main biliar berhenti menatapku dengan pandangan yang aku tidak mengerti, mungkin aneh, mungkin terkejut, mungkin heran atau perpaduan antara ketiganya. Gila! I’m crossing the border!! Dansa gitu loh….. Hingga saat ini aku bukan seorang gadis memakai jilbab yang dapat dengan gampang di peluk-peluk lelaki yang bukan muhrimnya. Namun saat itu rasa penasaranku mengalahkan nilai yang ku pegang saat itu. Ternyata rasanya tidak begitu buruk, lagi pula ada space antara aku dan Dr. Ratka so it not cheek to cheek dance…… Sesudah selesai aku mengucapkan dan mendapat ucapan terima kasih dari Dr. Ratka, perasaan lega, perasaan malu, perasaan senang menjadi satu. Aku kembali kemeja dan langsung meminum segelas air putih yang masih tersisa di meja ku tadi. Setelah mengobrol sebentar aku berjalan menuju buffet mengambil buah-buahan.. Ketika aku berjalan menuju meja ku, Prof. Scotti mengatakan, “congratulation you are good actrees there!” Di meja aku kembali mengobrol dan kemudian memikirkan arti ucapan Prof. Scotti, mengapa dia mengatakan hal tersebut, apakah aku terlihat sedang memerankan suatu lakon, entahlah, yang jelas ucapannya membawaku pada perasaan bersalah karena aku sepertinya telah mengkhianati keyakinanku. Mungkin lebih baik sejak awal aku menolak untuk berdansa sehingga aku tidak terjebak pada dilema ini. Atau mungkin juga maksudnya tidak demikian, tapi dengan begitu aku tahu bagaimana rasanya berdansa dengan pria dewasa, daripada hanya berdansa dengan adik ku Fauzan. :))