STASIUN UI DALAM INGATAN SAYA, BAG : 1
Juli tahun 1996, pertama kali menginjakan kaki di stasiun UI saat itu saya mengantar seorang kawan mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti ujian seleksi di Politeknik UI (sekarang bernama Politeknik Negeri Jakarta). Selanjutnya setelah menjadi mahasiswa FEUI, Stasiun UI bisa disebut sebagai rumah kedua bagi saya semasa mahasiswa karena dari saya lebih banyak menghabiskan waktu di Stasiun UI peron jurusan Bogor ketimbang di tempat-tempat lain. Pedagang di stasiun saat itu terbagi di dua tempat yakni peron arah Jakarta dan Peron arah Bogor, jumlah pedagang antara peron Bogor dan Jakarta sama. Biasanya saya duduk-duduk sebentar di Kios Mas Lilik (dulu kiosnya dilengkapi meja dan kursi), baca majalah atau koran di los koran Dedi (kini telah memiliki beberapa kios buku dan koran di beberapa stasiun), jajan di los Dudung, atau tidur dalam posisi duduk ketika menunggu kawan-kawan di los Mas Didit dan sore hari melihat teman-teman mahasiswa sore (sebutan untuk mahasiswa program D3 atau ekstension) yang bermain kartu di dekat los Mbak Mar. Los Mbak Mar adalah los terujung saat itu, sehingga jarang saya kunjungi. Permainan kartu ataupun gapleh pada saat awal hingga pertengahan saya kuliah amat digemari para mahasiswa, sehingga area stasiun pun tidak lepas dari permainan itu. Pernah suatu ketika dari ujung keujung terlihat para mahasiswa memainkan permainan berkelompok tersebut. Awal keretakan hubungan mahasiswa asal Bogor dengan Mas Lilik juga karena permainan kartu, sebab ada beberapa rekan yang ternyata bermain kartu dengan menggunakan uang di meja Kios Mas Lilik, tentu saja hal itu mengundang kemarahan Mas Lilik karena tempatnya berdagang dijadikan arena perjudian. Berdasarkan versi lain dikabarkan sambil bermain kartu ada dua pemain yang meminum minuman keras di sana. Mulai saat itu Mas Lilik mengambil jarak terhadap para mahasiswa dan secara tidak tertulis para mahasiswa menyepakati untuk berrmain tanpa uang/taruhan di sekitar peron Bogor. Karena waktu yang saya habiskan cukup panjang di peron arah Bogor saya dapat mengetahui riwayat para pedagang yang beroperasi di sana bahkan sampai mengenal keluarga mereka. Kedekatan mahasiswa-mahasiswa yang sering berada di stasiun UI arah Bogor terhadap pedagang-pedagang tersebut kadang membawa efek negatif terhadap aliran kas pedagang-pedagang yang ada di tempat tersebut. Karenanya mahasiswa jadi tidak sungkan untuk nge-bon dagangan mereka, dan kadang kala ada saja yang lupa membayar hutang-hutang mereka yang bertumpuk pada pedagang-pedagang yang baik hati tersebut. Sehingga kadang mereka meminta bantuan sesama mahasiswa untuk mengingatkan teman-teman mereka membayar hutang-hutang yang bertumpuk. Main kartu berjam-jam ataupun menunggu teman-teman yang masih 1-2 jam berada di kampus, tanpa ditemani rokok atau minuman dingin tentu sangat menjemukan dan melelahkan. Sedangkan uang bulanan tidak selamanya terisi penuh, sehingga banyak mahasiswa dengan tidak sungkan berkata pada para pedagang-pedagang tersebut,”Tolong catat” dan tentu mereka hanya dapat bersenyum pahit mencatat hutang-hutang para mahasiswa. Namun selain sisi negatif para mahasiswa yang sering berkumpul disekitar stasiun juga membantu menjaga los atau pun kios pedagang di waktu mereka harus meninggalkannya untuk keperluan sholat atau lainnya. Bahkan terkadang jika pembeli sangat banyak misalnya karena kereta mogok, para mahasiswa turun tangan membantu melayani pembeli. Saya termasuk yang sering dititipi menjaga los Mas Didit, sehingga saya saat itu hapal hampir semua harga-harga barang dagangan disana sehingga terkadang banyak pembeli yang tentunya bukan para mahasiswa yang biasa berada di peron Bogor menyangka saya pedagang di sana. Pedagang-pedagang di stasiun juga sering kali menjadi sumber informasi kedatang kereta, selain informasi mengenai “Bunga-Bunga Stasiun”. Melalui pedagang di Stasiun para kumbang dapat mengetahui jam kedatangan atau kepulangan para Bunga berikut fakultas, serta teman-teman para Bunga. Sehingga mereka dapat mengatur strategi untuk dapat menemani para Bunga. Fungsi pedagang di peron juga sebagai tempat penitipan buku atau berbagai barang para mahasiswa (mulai dari selebaran kegiatan hingga tas). Barang mayoritas yang ada dititipkan tentu saja buku pelajaran karena ketika jam-jam penuh akan sangat sulit masuk ke dalam kereta dengan membawa buku-buku pelajaran yang karena tebalnya dapat dijadikan alat latihan angkat beban. Barang-barang titipan biasanya ditaruh di rak paling bawah etalase agar tidak bercampur dengan barang dagangan. Pada tahun 1998, ketika maraknya demonstrasi mahasiswa menentang Soeharto, stasiun UI juga menjadi salah satu tempat janjian untuk mahasiswa yang akan berdemo bersama kawan-kawannya sebelum pergi ke tempat demo. Saat itu pusat demonstrasi mahasiswa UI adalah kampus UI Salemba karena letaknya yang cukup presentatif karena berada dekat dengan daerah pusat kekuasaan. Kampus UI Salemba berdekatan dengan stasiun Cikini tapi umumnya mahasiswa yang hendak berdemo disana janjian di stasiun UI terlebih dahulu, baru bersama-sama teman-teman yang lain naik kereta ke Cikini. Sekembali berdemo pun kadang para mahasiswa asal Bogor mampir sebentar di stasiun UI untuk sekedar berehat atau sekedar berkumpul kembali sambil bertukar cerita dengan teman-temannya untuk bersama-sama kembali ke Bogor. Tahun pertengahan 1999 disamping Stasiun UI pernah dibangun rumah singgah untuk anak-anak jalanan oleh Keluarga Besar UI, namun pada pagi hari sekitar awal tahun 2000 rumah singgah tersebut tiba-tiba hilang dan hanya menyisakan lubang bekas tiang rumah beberapa buah di tanah. Sampai saat ini saya masih berusaha mengingat-ingat kembali mengenai sebab rumah singgah tersebut dibongkar. Pada kisaran waktu yang sama mahasiswa-mahasiswa UI asal Bogor yang tergabung dalam Kekerabatan Mahasiswa Bogor di UI (KMB-UI) mendapatkan papan Mading yang dipasang dekat tempat penjualan karcis dari Kepala Stasiun UI saat itu. Saya dan teman-teman sangat berterima kasih kepada kepala stasiun UI pada saat itu meski saya tidak mengetahui nama bapak yang baik hati tersebut. Melalui papan Mading tersebut Mahasiswa asal Bogor menyampaikan berbagai agenda kegiatan ataupun pengumuman mengenai berbagai hal, biasanya sih mengenai pertandingan bola antar angkatan atau antar fakultas, pengajian ataupun rapat (yang ini sebenarnya cuma kumpul-kumpul namun agar berkesan lebih serius dan mengundang minat dinamakan rapat). Selain papan Mading yang penempatannya harus berizin, tentu saja tiang-tiang di setiap peron UI menjadi tempat bebas bagi siapa saja untuk dapat menempelkan famplet apapun. Baliho dan Spanduk yang dipasang berbagai organisasi di kampus UI juga terpusat di seberang stasiun UI, karena banyaknya mahasiswa yang lalu lalang melewati stasiun UI. Ketika itu jalan di depan stasiun UI mulai pukul 07.00 hingga pukul 08.00 pagi dapat di pastikan macet karena antrian Bus Kuning yang menjemput mahasiswa yang berkumpul di depan halte stasiun UI sering kali menghambat jalan kendaraan-kendaraan pribadi yang dibawa para mahasiswa, selain ramainya mahasiswa yang berjalan menyebrangi jalan tersebut. Pegawai KAI yang bertugas di stasiun UI pada saat itu yang saya ingat hanya Mamat, karena dialah yang sering berada diluar kantor stasiun UI, petugas lain baru muncul ketika harus memeriksa karcis. Orangnya pendek, agak gemuk, rambut berponi dan berkulit coklat tua. Dia sering saya lihat membersihkan lahan sekitar peron arah bogor pada pagi atau sore hari. Kadang ia juga memotong rumput hias yang berada di sekitar stasiun UI jika sudah terlihat tinggi-tinggi. Mamat agak populer karena dia sering digoda oleh para pedagang disekitar peron karena perawakannya yang mungil. Peturasan adalah salah satu bagian terpenting sebuah stasiun sebagai area publik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Saya bersyukur sekali karena peturasan di stasiun UI cukup bersih untuk digunakan. Sehingga saya tidak alergi menggunakannya dalam saat-saat terdesak. Dulu jika tidak ada air, peturasan disana akan ditutup agar tidak kotor. Selama semester pertama saya masih mempergunakan abudemen siswa yang harganya lebih murah daripada harga abudemen umum, saat itu memang saya masih merasa sebagai siswa ketimbang mahasiswa. Sekitar tahun 1996-1999 membeli abudemen di stasiun UI harus melalui perjuangan dan memakai jalan titip-titipan karena jumlahnya terbatas. Jangan sampai membeli abudemen lepas dari tanggal 1 karena pasti sudah habis. Bahkan pernah sebelum jam 12.00 abudemen sudah tidak tersedia. Biasanya kalau ini terjadi kami harus bergegas ke stasiun Pancasila ataupun Lenteng Agung untuk mendapatkan abudemen dengan harga serupa. Namun kalau lewat dari tanggal 3, mesti siap-siap membeli abudemen jurusan Pasar Minggu-Bogor, selisih harganya cukup mempengaruhi kantong mahasiswa yang tipis.