Archive for September, 2005

My Tomboy Style

Tuesday, September 27th, 2005

With_my_idol_1 "I don’t want to believe
And i don’t want to live
By the excuses
Of your weakness

`cause a woman should do
What she wants to do
There is no reason
For your shallow aggravation

Nothing wrong with this dress I wear
Nothing wrong with this smile I dare
Nothing wrong with my cowboy jilbab style

I’ts all in your mind, in your mind"

……I took from Anggun song "in your mind" and I change it in jilbab part…..

Resize_of_feui_g_salak_105 How nice if I could change my self into feminim and calm muslimah, but I could not stand like that. Some people said that it will be good to see me in a feminim style, because in my current style it bring "wild Image". It  not only one time but repeats many time. But in my mind, the style is only cover. One could not depend on that.

I thrust that my "tomboy" style is not wrong, it just style, style that I comfort with. Because it give me freedom to move and to enter to more space in the society. I see many people with many style, an charming woman or a gentle man but instead of them they are "wild". Ah…. they just following the style that people required, so if I’m not following others required, I think nothing wrong with that.

                "Just open your mind
                Then maybe you’ll find
                That there’s no reason
                For your shallow aggravation"

Tentang Kamera dan Fotografi

Thursday, September 22nd, 2005

Sejak kecil aku ingin sekali mempunyai kamera. Bahkan pernah merengek pada ibu untuk dibelikan kamera pocket merek fuji dengan alasan agar ada kenang-kenangan setiap ada acara-acara keluarga. Tapi ibu mengelak dengan alasan harga kamera tersebut terlalu mahal. Sebagai anak yang bergantung hidup pada orang tua saat itu, aku hanya dapat patuh. Kami hanya meminjam kamera pocket milik saudara atau tetangga jika ada acara-acara yang membutuhkan dokumentasi.  Sehingga aku bertekad, kelak, jika aku telah memiliki penghasilan, aku harus dapat membeli sebuah kamera untuk ku.

Dians_290 Ketika aku bekerja, keinginan itu nyaris terlupakan, hingga aku mendapat kabar dari Ayah bahwa pada tahun itu kami sekelurga harus merayakan lebaran di Medan karena kondisi kesehatan nenek yang semakin menurun. Terpikir olehku jika umur nenek akan panjang maka aku harus membawa sesuatu untuk mengabadikan saat lebaran kali ini bersama nenek, akhirnya keinginan untuk membeli kamera muncul lagi. Segera kulihat limit kartu kreditku, ternyata kartu kreditku satu-satunya ketika itu, hanya menyisakan 1 juta lebih sedikit sehingga tidak dapat membeli kamera digital yang aku inginkan. Temanku menyarankan untuk membeli kamera manual, tapi mengingat biaya operasional kamera manual mahal maka aku bertahan memilih kamera digital. Karena limit kartuku tidak memadai maka aku meminjam kartu kredit milik Desi, temanku. Berbekal kartu kredit itu aku ke glodok untuk membeli kamera digital.

Kamera yang ku pilih adalah Canon A300 karena easy to use dan budget friendly. Alhamdulillah meskipun LCD-nya dah mulai rusak sekarang, kamera itu telah berhasil mengabadikan lebaran terakhir bersama nenek. Salah satu orang yang berjasa mendidik ku.

Setelah memiliki kamera, aku mulai bergabung dengan klub fotografi yang berada di dunia maya, namun sering mengadakan hunting di dunia nyata fotografer.net namanya…..anggota klub biasa menyebutnya fn. (see hasil jepretan seadanya on http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=2&katacari=32618 dan http://www.fotografer.net/isi/galeri/index.php?xxthn=2004&searchid=2&katacari=32618&katakunci=  ) Dari klub ini aku mulai belajar fotografi sejengkal demi sejengkal. Mengenal fungsi diafragma, ISO, kecepatan, zoom, cahaya….. pokoknya segala tetek bengek yang tadinya aku tidak mengerti sama sekali.

Di FN disamping orang-orang yang pedas dalam mengirimkan kritik, adapula orang-orang yang baik dan rendah hati yang sudi membagikan pengetahuan mereka kepada para junior sepertiku. Suatu ketika aku tidak mengerti mengenai hubungan diafragma dan kecepatan, seorang senior mengirimkan artikel mengenai hal tersebut untuk ku pelajari. Dan Alhamdulillah sangat berguna dan menunjang hobi fotografi ku. Tak disangka kedua hal tersebut memegang peranan yang penting dalam menghasilkan gambar yang bagus.

Saat ini, kamera yang ku gunakan lebih sering adalah Nikon D70s, selain fitur-nya memuaskan kamera ini memiliki kapasitas penyimpanan foto yang besar, karena memory card Nikon D70s ini sebesar 1 gb. Bisa puasssssssssssssss banget buat mengabadikan berbagai moment. Namun kamera yang paling berjasa menemaniku mempergunakan fitur manual pada kamera digital adalah pocket camera Nikon coolpix 5400. Kamera ini pula yang menemaniku berjalan hingga curug sarebu di wilayah pegunungan salak.

Untuk seluruh anggota fn. baik nasional ataupun fn.bogor : Terima Kasih.

Untuk Model-model ku : Mutia, Zati Syarofina, Ayah-Ibu, sepupu-sepupuku serta adik-adik dan temanku, Terima Kasih.

Iseng-Iseng Ke Bandung

Friday, September 9th, 2005

Bandung1_1  Kemarin (8/9/05) aku iseng-iseng ke Bandung, karena aku dan Intan (My beloved Friend since elementary school) iseng-iseng pengen jalan-jalan. Aku ke Bandung dari Jakarta, sedangkan Intan Ke Bandung dari Cirebon. Rencana kami baru dibuat sehari sebelum keberangkatanku. Itupun tanpa persiapan….dan mikir mau kemana, yang penting cabut Jack!! Aku memang lagi ingin merubah suasana dan rindu pada kawan lamaku itu. Sudah hampir setahun kami tidak bertemu. Sekalian merayakan kepindahannya kembali ke Bandung dari Cirebon. Rencananya sih dia mau hidup mandiri di sana.

SawahbandungRencananya aku akan bolos kerja tapi ketika pagi hari dia mengatakan di telpon bahwa ia akan tiba di Kota Kembang pukul 11 setelah itu ia akan mengurus masalah kos2annya, sehingga aku memutuskan untuk ke Kantor terlebih dahulu. Di kantor waktu berjalan ga terasa tahu2 jam 11 Intan menelponku, segera aku lari  ke gambir pukul 11.15 dari kantor.  Dalam jadwal keberangkatan kereta yang aku akses melalui internet kereta berangkat pukul 11.35, segera aku menyeto taksi aku tiba di gambir pukul 11.26 segera aku lari menuju loket penjualan karcis. Alhamdulillah kereta baru berangkat pukul 11.45 menurut jadwal yang tertempel di loket. Lega, masih ada 15 menit tersisa, segera aku menuju kios buku dan majalah mencari-cari buku untuk dibaca selama 3 jam di kereta api nanti. Ah, ada buku Soe Hok Jie, Orang-orang yang berada di persimpangan kiri jalan, buku tsb sebenarnya adalah skripsi yang ditulisnya.

Segera aku naik ke jalur 2 untuk menunggu kereta datang. Namun apa daya ternyata kereta datang terlambat dan baru berangkat 55 menit dari jadwal yang ditulis di loket tadi. Ah sial……. iseng2 aku jeprat-jepret kuli angkut yang sedang beristirahat di stasiun Gambir. Sejak menurunnya jumlah penumpang akibat perang tarif pesawat, otomatis mereka lebih banyak nganggurnya ketimbang bekerja. Terenyuh juga hatiku memikirkan nasib mereka. Dijaman yang susah ini, kehidupan terasa makin menjepit bagi banyak rakyat kecil.

Ketika kereta tiba, segera ku masuki gerbong 1 kelas bisnis dan mencari tempat duduk NO. 4 D. Beruntung hari kamis, bukan hari yang ramai sehingga aku dapat menguasai No. 4 C sekaligus, nyamannya…… Selama 30 menit tenggelam dalam buku Orang2 yang berada di simpang kiri jalan mataku lelah. Kemudian aku mengambil posisi berbaring dan lelap selama 45 menit. Ketika bangun ku dapati pemandangan alam yang indah diluar jendela. Iseng-iseng aku berjalan ke pintu bagian penghubung gerbong di kiri-kanan kulihat seorang lelaki menikmati pemandangan alam dengan membuka pintu sambil merokok. Damn….. It so Beautiful !!! Segera aku kembali ke tempat duduk dan mulai menjepret sana sini . Walaupun ternyata gambar yang aku hasilkan tidak bagus karena aku harus berjuang mengatur posisi dan kecepatan kamera. hanay dapat 5 gambar dan itupun tak bagus…. Tapi sudahlah….segitupun aku bersyukur karena dapat menikmati pemandangan alam yang indah sepanjang perjalanan.

Mood for Photo Hunting

Tuesday, September 6th, 2005

Couplesfatherson Bagi aku kondisi sekitar sangat mempengaruhi mood memotret. Ketika ada tekanan atau ada hal-hal yang tidak enak dirasa lebih baik tidak memoto, karena akan sangat berpengaruh pada karya fotograpi yang dihasilkan. Meskipun aku belum dapat mengatakan berhasil dalam kegiatan motret-memotret ini dan hasilku foto ku pun bukan termasuk yang bagus. Namun kalau mood sedang jelek jangan dipaksakan deh…..

Aku pernah mengikuti kegiatan hunting foto yang diselenggarakan oleh fotografer Bogor. Walaupun orang-orangnya baik2 namun, ketika itu perasaan ku tertekan melihat peralatan yang digunakan oleh para fotografer tersebut. Sehingga aku hanya mampu menghasilkan 6 foto yang sangat2 tidak layak tampil juga tidak aku sukai. Satu lagi pengalaman, ketika aku memaksakan diri untuk mengambil foto stasiun dukuh atas, foto2 yang ku hasilkan jelek semua…..hahahhahahaha….. karena aku ke-gr-an waktu ngambil foto tsb.

Mood bagi ku sangat penting. Walau bukan berarti kalau moodku bagus maka hasilnya akan bagus, tapi setidaknya aku akan lebih menyenangi foto-foto yang ku hasilkan. Setelah hampir satu tahun bergabung dengan fotografer.net aku sendiri sekarang memilih sikap menyenangi foto-foto yang aku suka menurut versiku tanpa memperdulikan kritik orang.

Tentang seseorang yang tak sengaja mengguratkan kenangan

Saturday, September 3rd, 2005

Suatu ketika di saat aku sangat sedih dan tak tahu harus kemana mengadu, dia berada tepat di depanku. Sehingga tumpahlah airmata di depannya. Padahal dia bukan orang yang dekat denganku. Dia hanya figur indah yang takkan terjangkau, bahkan untuk berbincangpun hanya impian. Di atas kereta api tiba-tiba tak terbendung airmata ku, ketika beban dihati dan beribu masalah menghantuiku kala itu.

Saat lain, Sore itu aku menaiki bus jurusan kanan ketika kulihat semburat cahaya merah yang indah diatas danau UI dan balairung. Sangat indah hingga aku tak ingin membaginya dengan orang lain, ketika tiba-tiba sebuah suara memecahkan kekagumanku. “Kenapa senyum?” saat itu aku baru sadar dia duduk di depanku. Aku mengarahkan telunjukku pada pemandangan yang menakjubkan sore itu,”indah” hanya itu yang aku ucapkan sambil tersenyum menatap semburat merah di langit yang mulai meninggalkan warna biru diatas danau UI yang berlatarkan gedung rektorat.

“disaat aku membutuhkan tempat menumpahkan kepedihan dia berada di depanku” ]

“disaat aku tak ingin berbagi dia meminta tempat untuk merasakan keindahan yang ku rasakan”

Untuk lelaki impian yang secara tak sadar mengguratkan kenangan dalam ingatanku.