Archive for October, 2005

Seorang Ibu di KRL Pagi

Tuesday, October 25th, 2005

Apakah ada yang lebih baik dari kehidupan yang dapat dinikmati dan dilalui dengan senyum?

U are so beautiful…..

Beautiful …. to me,….

Itu yang dapat ku gumankan ketika melihat seorang ibu memapah anaknya menaiki tangga KRL ekonomi. Bagiku pemandangan itu adalah pemandangan yang indah. Melihat manusia menyebarkan kasihnya. Memperhatikan cara sang ibu mengajarkan sopan santun pada anaknya untuk melepas alas kaki sebelum menaiki bangku kereta api, kemudian memasukan alas kaki tersebut kedalam plastik agar tidak tercecer. Membiarkan sang anak berdiri sambil memandang keluar, namun tetap waspada menjaganya. Memberi tebakan nama stasiun apa saja yang akan dilewati nanti. Dan sang anak pun menyebutkan nama-nama stasiun secara acak dengan gembira. Kemudian berceloteh menanyakan berbagai hal pada ibunya, tentang pengamen, peminta-minta, penjual koran bahkan kondektur yang baru saja lewat memeriksa karcis mereka. Sang ibu walau kadang agak kesal tetap menjawab pertanyaan itu. Si anak kemudian merengek meminta bajaj bajuri yang dibawa seorang pedagang, sementara si ibu sibuk menertibkan anaknya dengan berkata, “ hush …… bajaj itu bukan untuk perempuan, karena itu bukan permainan perempuan”.  Mengajukan alasan gender agar sang anak berhenti meminta barang tersebut.

Seorang ibu akan tetap berusaha konsisten terhadap fungsinya sebagai pendidik sekaligus pengelola keuangan keluarga dimanapun dia berada. Menentukan keinginan apa yang dapat ataupun tidak dapat dipenuhi, meskipun dalam kereta api yang sarat akan pedagang yang lalu lalang dengan berbagai godaan.

Dalam kepadatan kereta jam 9 pagi aku menikmati pemandangan itu. Sambil mengenang perjalanan bersama ibu ketika kecil dahulu. Tersenyum sendiri.

Perbedaan Porno dan Art

Sunday, October 16th, 2005

Ketika pulang bersama Bang Pian dari Kantor Warta Ekonomi, setelah berdiskusi masalah fotografi, iseng aku bertanya, "apa sih perbedaan antara foto Porno dan foto Art (tapi yang nudis neehhh), Menurut Bang Pian sih begini,

Dian,

Yang dinamakan foto porno itu adalah foto yang memperlihatkan dengan jelas organ vital dari obyek foto, sedangkan foto art adalah foto yang memperlihatkan keindahan tubuh dari obyek foto dan menyamarkannya bagian vital dari obyek foto. Dan lagi, proporsi serta angle menentukan sebuah foto itu art atau porno.

Trus aku fikir-fikir lagi,

Bukankan seorang muslim tidak boleh melihat aurat muslim lainnya yang bukan mahromnya, nah kalau gitu gmana aku tahu itu foto porno atau art, wong ngeliat aja ga boleh…. hehhehehehehee

Aduhai Betapa Indahnya Pagi

Wednesday, October 12th, 2005

Duhai …..
Betapa romantisnya mataku pagi ini.
Semua terasa indah terlihat….
Bahkan berjejalan di kereta api ekonomi pun tak terasa…
Entah …
Mengapa terinjakpun tak terasa……….

Rupanya setelah ku pikir-pikir tidurku nyenyak kemarin malam karena perutku terisi penuh.

Hehehehheehe….. kalau orang mungkin mati kelaparan, aku mungkin dapat mati kekenyangan kemarin malam.

Sudah… sudah…. jangan iseng lagi…… ayo semangat kerjakan thesis, karena saat-saat ini, aku menghadapi injury time. Thesis bo… thesis……………

Tanaman di Halaman Rumah kami

Tuesday, October 11th, 2005

Tahun ini tanaman yang lagi naik daun di rumah kami adalah Marquisa, karena sari tanaman tersebut sangat digemari oleh penghuni rumah kami. Biasanya kami harus membeli sirMy_pic_002up marquisa yang harganya lumayan mahal.  Syrup markisa di rumah kami benar-benar segar dan berbeda dari syrup markisa buatan pabrik. Lebih kental dan tingkat kemanisannya bisa disesuaikan dengan  selera. Karena enaknya pula teman-teman ayah ku beberapa kali meminta ayah untuk membawa syrup buatan ibuku ke kantor.Senangnya lagi, karena syrup made in rumah ini,  kami sekeluarga bisa minum syrup marquisa sepuasnya tidak ada batasan seperti jika meminum syrup made in pabrik.

Oh iya, setiap tahun penghuni rumahku selalu mempunyai  berbagai tanaman yang berbeda. Tahun lalu, pohon belimbing adalah favorit kami, karena saat itu kami sering terkekeh melihat kelakuan adikku yang demen nangkring di pohon belimbing saat itu. Dua-Tiga tahun lalu tanaman favorit kami adalah anggrek, karena bunga-bunganya yang indah yang menyejukan hati ketika di pandang. Namun karena kesibukan penghuni rumah dan penyakit yang sering datang maka satu persatu anggrek kami berguguran, kini hanya tertinggal 10 tanaman anggrek yang tersisa dari puluhan pot yang ada.

Pernah juga kami memfavoritkan tanaman Pepaya karena buahnya yang manis yang terus menerus berbuah, namun karena lahannya dipergunakan untuk memperbesar luar rumah kami maka pohon-pohon pepaya tinggallah kenangan. Pernah juga kami menanam jagung dan ubi kayu, hasilnya lumayan loh….. Tanaman -tanaman ini terus terang sering membantu dapur untuk mengisi perut kami. Karena seringkali ditanggal tua ketika uang belanja ibu sudah menipis, namun ia sebagai manajer keluarga harus tetap menyediakan masakan yang bergizi, maka bermodal hasil-hasil tanaman dari kebun kami tersebut itu ibu membuat sayur daun ubi tumbuk atau tumis ataupun lalp beserta sambelnya tinggal tambah ikan asin kiriman saudara dari Medan, wah sedap banget tuh.

Anak-anak ayah dan ibu selalu diajarkan untuk bersyukur atas rahmat Allah yang masih memberikan kami hasil kebun untuk kami makan.  Dan Alhamdulillah, ibuku adalah koki yang pintar dalam mengolah makanan. Sehingga tak ada makanan yang tersisa jika ibu memasak, selalu kami tandaskan, kecuali bila ibu memasakanya kebanyakan hehehehhe……