Seorang Ibu di KRL Pagi
Apakah ada yang lebih baik dari kehidupan yang dapat dinikmati dan dilalui dengan senyum?
U are so beautiful…..
Beautiful …. to me,….
Itu yang dapat ku gumankan ketika melihat seorang ibu memapah anaknya menaiki tangga KRL ekonomi. Bagiku pemandangan itu adalah pemandangan yang indah. Melihat manusia menyebarkan kasihnya. Memperhatikan cara sang ibu mengajarkan sopan santun pada anaknya untuk melepas alas kaki sebelum menaiki bangku kereta api, kemudian memasukan alas kaki tersebut kedalam plastik agar tidak tercecer. Membiarkan sang anak berdiri sambil memandang keluar, namun tetap waspada menjaganya. Memberi tebakan nama stasiun apa saja yang akan dilewati nanti. Dan sang anak pun menyebutkan nama-nama stasiun secara acak dengan gembira. Kemudian berceloteh menanyakan berbagai hal pada ibunya, tentang pengamen, peminta-minta, penjual koran bahkan kondektur yang baru saja lewat memeriksa karcis mereka. Sang ibu walau kadang agak kesal tetap menjawab pertanyaan itu. Si anak kemudian merengek meminta bajaj bajuri yang dibawa seorang pedagang, sementara si ibu sibuk menertibkan anaknya dengan berkata, “ hush …… bajaj itu bukan untuk perempuan, karena itu bukan permainan perempuan”. Mengajukan alasan gender agar sang anak berhenti meminta barang tersebut.
Seorang ibu akan tetap berusaha konsisten terhadap fungsinya sebagai pendidik sekaligus pengelola keuangan keluarga dimanapun dia berada. Menentukan keinginan apa yang dapat ataupun tidak dapat dipenuhi, meskipun dalam kereta api yang sarat akan pedagang yang lalu lalang dengan berbagai godaan.
Dalam kepadatan kereta jam 9 pagi aku menikmati pemandangan itu. Sambil mengenang perjalanan bersama ibu ketika kecil dahulu. Tersenyum sendiri.
December 8th, 2005 at 12:40 am
memang benar gambaran kadang berbeda dengan kenyataan, tampang sangar tapi heartnya baik, aku juga terharu ternyata anda orang yang peduli thdp sekelilingnya, dan usahakan jangan lupa peduli diri sendiri, bertanyalah untuk apa Alloh menciptakan aku ada?