Enam Hari di Kota Udang Perjalanan ini telah saya rencanakan sejak sebulan sebelumnya, karena menurut teman SMP saya, Lina, akan ada reuni kecil-kecilan untuk alumni SMP 1 angkatan 93. Saya sangat bersemangat sekali karena saya telah belasan tahun tidak bertemu dengan teman-teman alumni SMP Negeri 1 angkatan 93. Lepas SMP, saya meninggalkan kota Cirebon untuk bergabung bersama orang tua saya di kota hujan, sedangkan rekan-rekan SMP saya umumnya melanjutkan SMA di kota tersebut. Satu-satunya penghubung saya dengan kota itu hingga awal tahun 2005 adalah kawan karib saya, Intan, melalui dialah saya mengetahui berita-berita seputar Cirebon.
Tanggal 4 November pukul 14.30 WIB setelah berziarah dan berkunjung ke rumah-rumah kerabat di kota Cirebon, diantar Ayah-Ibu, Nenek-Kakek, beserta adik-adik saya dan Tia (adik perempuan saya) datang ke rumah Intan, yang akan menjadi tempat tinggal saya selama di Cirebon. Setelah ditinggalkan oleh keluarga, saya segera menuju kamar tamu yang telah saya pergunakan dua minggu sebelumnya. Rumah orang tua Intan menghadap langsung jalan Sutawinangun, tidaklah besar, namun cukup asri karena di halamannya penuh dengan tanaman buah-buahan, seperti : Mangga, jambu air serta palem. Setelah Intan menyuplai berbagai bacaan untuk saya dan Tia, maka kami berdua larut dalam bacaan hingga sore hari.
Setelah magrib bersama Intan berjalan-jalan menuju mal terdekat, yang kebetulan mal terbesar di kota Cirebon, untuk mencari buku (agar saya tidak terpaku pada luka hati saya) dan mencari sesuatu untuk makan malam, sembari bertukar kabar lebih leluasa. Ternyata mal sangat penuh pada hari kedua Lebaran sehingga kerap kali saya secara tak sengaja bertabrakan dengan banyak pengunjung. Saya tidak tahu bahwa orang-orang sangat haus hiburan dan sangat ingin menghabiskan penghasilan mereka di hari Raya. Atau mereka juga seperti saya harus ke mal karena para pedagang di pasar sedang mengambil cuti tahunan mereka? Ketika saya kecil, tempat-tempat wisata lah yang ramai dikunjungi, sedangkan pusat-pusat pertokoan sepi, karena mayoritas masyarakat telah membeli berbagai kebutuhan mereka untuk hari-hari selama lebaran. Namun rupanya masyarakat saat ini lebih menikmati makan bersama di pusat-pusat pertokoan untuk alasan lebih praktis, karena dengan akan terhindar dari tugas memasak, cucian piring yang menggunung dan acara menata meja makan.
Hari kedua lebih banyak saya habiskan dengan acara membaca, bertukar cerita dan mengunjungi Ibu Sri yang menjadi induk semang saya selama setahun di Cirebon, ketika orang tua saya harus berpindah ke Bogor, meninggalkan saya yang harus menyelesaikan SMP. Sebenarnya saya pernah bertandang ke rumah Bu Sri, namun itu terjadi kira-kira 6-7 tahun lalu. Sudah pasti saya dan Intan (yang dengan setia menemani saya bersama dengan mobil perjuangannya selama liburan tahun ini) agak-agak tersasar menemukan rumah Bu Sri di Kempek, yang terletak di luar kota Cirebon. Bu Sri dan Pak Tjetje masih tetap hangat menyambut saya, seperti saat pertama mereka berdua menyambut kedatangan saya di rumahnya 13 – 14 tahun silam. Mereka berdua pun seperti tak berubah, hanya sekarang gigi Pak Tjetje mulai bertanggalan. Rumah yang dulu saya tempati ketika dititipkan oleh orang tua saya sebenarnya berada di Desa Karang Asem, Plumbon, kini telah rata dengan tanah karena proyek pembangunan jalan tol KANCI. Sehingga saya tidak dapat bernostalgia mengenang kamar perjuangan yang pernah saya tempati. Hari itu saya mulai mencicil hutang puasa saya, setelah sholat magrib dan berbuka puasa, saya dan Intan berpamitan kembali menuju daerah perkotaan. Udara petang itu sangat panas, sehingga beberapa kali saya mengeluh kehausan dan kepanasan, AC kami matikan karena kami rasa lebih berguna angin jalanan ketimbang AC.
Kami berputar-putar mencari kafe (tujuan kami tidak mencari tempat makan, hanya tempat minum) yang tidak berada di lingkungan mal namun cukup layak untuk dijadikan tempat berbincang sambil melepas dahaga. Kami temukan sebuah kafe di Jalan Kartini yang berada tak jauh dari Mal Grage namun parkirannya tampak tak penuh. Dari luar sepertinya kafe tersebut cukup representatif lebih-lebih lagi tersedia fasilitas internet, namun betapa kecewanya kami setelah memasuki kafe tersebut, meja dan kursi yang tersedia disana layaknya meja kursi rumah makan pinggir jalan lintas propinsi, begitu juga dengan dekorasinya.