Archive for March, 2006

Mengalihkan energi

Thursday, March 23rd, 2006

Dengar2 orang menyebut2 mengalihkan energi, jadi ingat rumusnya Einstein : E = mc (kuadrat).  Gimana yah mengalihkan perhatian yang begitu besar terhadap sesuatu ???

Ayo cariin jalan…

Kata Fikri temenku sih aku lebih baik mengalihkan energiku dengan menulis, nulis apa aja… walaupun gak dimuat yang penting nulis… Syukur2 tulisanku enak dibaca dan kemampuan analisaku makin maju. Kalau engga mah itung2 terapi diri.

Menundukkan Diri

Tuesday, March 21st, 2006

seHari ini aku kembali ditampar oleh diri sendiri……….. Betapa malunya aku berkeluh kesah atas luka yang tidak ada artinya dibandingkan dengan penderitaan hidup manusia lain yang jauh………………jauh………….lebih berat dan lebih rumit. Kudapati seorang ibu yang harus meninggalkan keluarganya nuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnn jauh disana demi mengumpulkan uang Rp. 400.000,- per bulan. Jumlah itu tak terpikirkan oleh ku dapat mencukupi kebutuhanku  seorang diri sebulan. Namun baginya itu sangat berati……… untuk membiayai kelima anaknya.

Bagaimana dia bisa makan banyak sambil memikirkan jika anak-anaknya disana belum tentu dapat menikmati makanan. Dian, berjanjilah melakukan sesuatu yang berguna setidaknya untuk meringankan kesulitan dia…….. Aku tahu masih banyak manusia lain yang hidup sulit, tapi setidaknya bergeraklah dari yang terdekat dulu.

Ternyata, semangat hidupku kembali lagi loh….

Ayo bekerja……..

Ayo maknai hidup………

Ayo menjadi berguna…..

TERPURUK……

Sunday, March 19th, 2006

Mataku kembali basah kali ini. Perasaanku kemarin mengatakan bahwa ia benar-benar tidak ingin bertemu lagi dan itu benar. Jelas sekali terlihat jarak yang berusaha dia buat dan aku dapat menangkapnya. Walaupun ku akui kemarin, sebelum bertemu lagi dengannya, aku berfikir menghentikan semua secara pelan-pelan. Namun ketika lawan kita yang membuat jarak, sakitnya lebih terasa.

Mungkin karena ini terlalu sangat cepat terjadi. Tiba-tiba saja sepulang dari Yogya dia menyatakan bahwa dia memilih mengakhirinya dan aku menyetujuinya. Walaupun ternyata setelah keputusan itu telah diambil, aku masih belum dapat menerima itu, karena begitu tiba-tiba.

Sekarang berakhir…………….

            Aku yakin, akan berhasil keluar dari masa-masa sedih ini, tapi bagaimanapun aku masih harus menanggung rasa sakit ini. Kemarin dulu, ku katakan bahwa aku telah kebal oleh rasa sakit seperti ini, to be honest, aku masih bisa merasakan sakit yang mengiris-iris hati dan membuatku sulit bernafas. Aku ingin pergi, entah kemana……. Asalkan rasa sakit ini cepat hilang……..

            Sesungguhnya aku tidak adil, seharusnya aku bisa melepasnya seperti dengan mudah ku membiarkan keindahan itu memasuki hari-hari itu. Tak ada mimpi indah untukku di malam-malam ini. Rabb, betapa sakit menanggung sendiri, aku tak bisa berbagi dengan siapapun, karena aku berjalan sendiri ketika aku memilih memasukinya. Luka ini aku sendiri yang menyebabkannya. Aku, seorang yang tak berlogika…..yang memulai jalan yang sulit ini.

            “aku ingin kebaikan untuk semua pihak”, katanya. Tidakkah dia tahu, aku telah teronggok seperti sampah? Aku bahkan tidak berani memandang diriku lagi. Tidak berani memandang ke dalam mataku di depan cermin. Kepercayaan diri yang aku tampilkan hilang. Penciptaku yang baik, tolong kembalikan kepercayaan diri ku itu dan berikan kebahagian padaku untuk menutupi luka ini.Amin

Berat …. Tapi harus Kuat!!!

Tuesday, March 14th, 2006

Baru beberapa hari menjalaninya…. terasa beraaaaaaaaaaaaatttttttttttttttttttt banget…… Duh….. kuatkan ya Allah….kuatkan diri ini……menjalani keputusan yang telah kami ambil.

Karenanya kubangun beribu-ribu alasan mengapa aku harus menghadapi ini. Mengapa harus tegar….

Sembari pula membangun Tekad untuk membuktikan bahwa kami layak bersama dimasa datang

MALAM KETIKA HATI MENGETUK LUMBUNG AIRMATA

Saturday, March 11th, 2006

Sayang, aku sadar sekali ini keputusan terbaik yang harus kita ambil saat ini.

Meski hati telah bertaut, namun kita tak dapat hidup dengan menisbikan jaring-jaring yang telah mengikat masing-masing diri. Kita pun bukan orang yang tak dapat mendengar kerasnya deburan kegelisahan mereka.

Meski sakit, kita harus tetap berjalan menempuh jalan kita masing-masing.

Aku tak ingin menuntutmu menjalani hal yang tak dapat kau jalani.

Kau pun tak dapat memaksaku meninggalkan sayap-sayap yang telah membesarkan dan melindungiku.

Dengan pisau cintaku, telah ku tusuk hati menegakkan logika.

Kita tak dapat berjalan terus menerus melukai banyak jiwa.

Aku sadar bahwa kau pun terluka, sangat terluka………..

Meski kau berusaha tertawa, namun aku masih sempat menangkap airmata yang tak dapat kau tumpahkan di depanku.