Mataku kembali basah kali ini. Perasaanku kemarin mengatakan bahwa ia benar-benar tidak ingin bertemu lagi dan itu benar. Jelas sekali terlihat jarak yang berusaha dia buat dan aku dapat menangkapnya. Walaupun ku akui kemarin, sebelum bertemu lagi dengannya, aku berfikir menghentikan semua secara pelan-pelan. Namun ketika lawan kita yang membuat jarak, sakitnya lebih terasa.
Mungkin karena ini terlalu sangat cepat terjadi. Tiba-tiba saja sepulang dari Yogya dia menyatakan bahwa dia memilih mengakhirinya dan aku menyetujuinya. Walaupun ternyata setelah keputusan itu telah diambil, aku masih belum dapat menerima itu, karena begitu tiba-tiba.
Sekarang berakhir…………….
Aku yakin, akan berhasil keluar dari masa-masa sedih ini, tapi bagaimanapun aku masih harus menanggung rasa sakit ini. Kemarin dulu, ku katakan bahwa aku telah kebal oleh rasa sakit seperti ini, to be honest, aku masih bisa merasakan sakit yang mengiris-iris hati dan membuatku sulit bernafas. Aku ingin pergi, entah kemana……. Asalkan rasa sakit ini cepat hilang……..
Sesungguhnya aku tidak adil, seharusnya aku bisa melepasnya seperti dengan mudah ku membiarkan keindahan itu memasuki hari-hari itu. Tak ada mimpi indah untukku di malam-malam ini. Rabb, betapa sakit menanggung sendiri, aku tak bisa berbagi dengan siapapun, karena aku berjalan sendiri ketika aku memilih memasukinya. Luka ini aku sendiri yang menyebabkannya. Aku, seorang yang tak berlogika…..yang memulai jalan yang sulit ini.
“aku ingin kebaikan untuk semua pihak”, katanya. Tidakkah dia tahu, aku telah teronggok seperti sampah? Aku bahkan tidak berani memandang diriku lagi. Tidak berani memandang ke dalam mataku di depan cermin. Kepercayaan diri yang aku tampilkan hilang. Penciptaku yang baik, tolong kembalikan kepercayaan diri ku itu dan berikan kebahagian padaku untuk menutupi luka ini.Amin