Ketika aku ingin datang pagi

Hari ini, aku ingin berangkat pagi, mewujudkan niatku untuk bekerja lebih banyak dan lebih keras. Semua bergerak cepat, tapi tiba-tiba aku muak dengan segala rutinitas pagi disekelilingku. Kenapa manusia tidak memperbaiki diri sendiri dulu ketimbang mengurusi aktivitas rutin orang lain, lalu kemudian mengejeknya? Karena perbaikan tidak akan tercipta dengan ejekan, makian ataupun kata-kata keras. Lalu aku bangkit melaksanakan sholat shubuh.

Dua puluh menit menjelang jam delapan aku sudah berada di stasiun kereta, matahari mulai mencubit, aku bersemangat sekali untuk datang pagi ke kantor, namun kenapa kereta tidak bersahabat? Di kereta api, penumpang berlaku seperti kanak-kanak saling dorong, sikut-sikutan, pangku-pangkuan dan terus terang membuatku ingin berlaku anarkis terhadap mereka. Mengapa mereka bisa duduk manis di kereta pakuan dan berlaku kanak-kanak di kereta ekonomi?

Setelah turun dan melihat tukang ojek menyebalkan itu yang sedang dapat giliran mengangkut penumpang, aku langsung berputar mencari mikrolet. Syukurlah mikrolet datang menyambut cepat, kemudian membawaku melewati tebet. Casablanca, macet membuat kendaraan berbaris laksana semut mengantri jatah gula….. dan aku dapat dipastikan tidak akan dapat datang tepat jam 9. Sudahlah …………. yang penting hari ini aku sudah berniat datang tepat jam 9.

Dan kini aku menghadapi kertas-kertas kerjaku.

SELAMAT PAGI

Leave a Reply