EAST KALIMANTAN, MASIHKAH JADI SALAH SATU PARU-PARU DUNIA Bag. 2
Dari atas
Canopy Bridge , terdengar suara gergaji mesin menderu dikejauhan membuat ingin menangis, karena berfikir semakin sedikit saja pohon besar yang dapat dinikmati. Sayang sekali paru-paru dunia rusak oleh kerakusan manusia. Selepas dari canopy bridge, aku putuskan untuk melalui trek VI, yang merupakan trek terpanjang. Dan sekali, aku kembali menelan kekecewaan karena tidak menemui pohon besar seperti yang aku dambakan. Aku hanya menemui Kebun Anggrek yang terkunci namun tak terawat, serta sarang burung yang tak ada burungnya. Kemudian aku menemui area permainan untuk outbound, seperti flying fox, memanjat tambang sampai keatas titian pohon dan sebagainya. Pukul 14.30 WITA aku sudah menikmati baso dan pukul 15.00 aku meninggalkan Bukit Bengkirai dengan ke kecewaan. Tapi sempat ku utarakan kekecewaanku kepada petugas penjual tiket, betapa sayangnya hutan yang berpotensi untuk berkembang tak terurus dan tidak dapat dijadikan area pendidikan lingkungan yang baik untuk anak-anak, karena dapatkah kita menerangkan mengapa gergaji besi mendera kayu-kayu dan membuatnya tersungkur mencium tanah?
Hutan Sei Wein
Waktu yang tersisa semakin sempit, karena aku pesawatku berangkat pada pukul 18.50 WITA akhirnya Pak Supri memacu kijang dengan cepat. dan akhirnya kami memasuki wilayah kota balikpapan lebih cepat. Sehingga akhirnya ada waktu lebih untuk iseng-iseng mengintip Hutan Sungai Wein..
Eh,.. ngantuk… aku tidur dulu ye.. sekarang jam 23.47 wib