EAST KALIMANTAN, MASIHKAH JADI SALAH SATU PARU-PARU DUNIA
Aku belom ceritain pengalaman gw ke EAST KALIMANTAN alias Kalimantan Timur. Aku kesana dalam rangka perjalanan Dinas, tapi sempat jalan-jalan ria sehari sebelum seminar dan di hari akhir seminar (nyolong-nyolong). Daerah yang aku jelajahi adalah Tritip, Pantai Manggar, Hutan Tanaman Industri Bukit Bengkirai, serta Hutan Sungai Wein. Sebenarnya aku juga ke tempat penangkaran orang utan, tapi apa daya tak boleh masuk karena tidak dilengkapi oleh surat-surat.
PENANGKARAN BUAYA DI TRITIP
Tidak mendapatkan pesawat yang dapat berangkat lebih sore merupakan satu berkah bagiku. Karena dengan demikian aku mendapatkan waktu untuk melihat-lihat Balikpapan lebih lama. Setelah pesawat mendarat di bandar udara Internasional Sepingggan, aku langsung naik taxi menuju hotel. Supir taxi yang ku tumpangi memberikan keterangan bahwa kalimantan Timur memiliki obyek wisata yang dapat dikunjungi yakni : Tritip, Bukit bengkirai, Pantai Mangar dan Sungai Wein.
Maka setelah beristirahat selama 1,5 jam dilanjutakan dengan mandi, maka pada pukul 11.30 aku segera turun untuk menjelah Balikpapan. Kuputuskan untuk mengisi perut dulu disebuah rumah makan, ternyata masakan ikan kakapnya lumayan juga. Kemudian aku mulai bertualang, dimulai dari terminal naik angkot 07. Di dalam angkot penumpangnya hanya 3 orang bersama 1 orang pacar sang supir (BTW, aku kesel banget disupiri oleh orang yang lagi pacaran,…duh…takut kecelakaan gara-gara gak konsen). Sempet nyasar karena aku tidak mengatakan bahwa aku akan turun di tempat penangkaran buaya. Ternyata Tritip itu luas hehehehe………. Akhirnya dengan membayar ongkos Rp. 4.000,- turunlah aku di jalan menuju tritip. Hanya 50 meter dari jalan raya terdapat pos masuk, dan untuk melewatinya aku harus membayar Rp. 5.000,- . Tempat itu hanya mempunyai 4 binatang, Gajah, Ular, Kura-Kura dan tentu saja bUAYA. Buaya yang ada pun tak banyak jenisnya hanya ada 4 pula dan aku tak hapal. Heeheehe…. yang jelas di sini di dominasi oleh Buaya Muara dalam berbagai ukuran. hiiiiiiiiiiiiiii ………. ada yang besar. Di Tritip aku hanya menghabiskan waktu 1,5 jam kemudiaan ke Pantai Manggar.
Pantai Manggar.
Sebenarnya pantai ini kurang menarik bagiku. Karena jika dibandingkan anyer saja sudah jauh. Dipantai ini banyak sekali pohon kelapa. Penduduk Balikpapan tumpah ruah disini setiap hari minggu. Banyak gerombolan anak muda yang datang dengan motor. Pada saat itu ada pula beberapa perusahaan yang mengadakan Gathering. Pantainya kecoklatan … pasirnya pun putih agak coklat, well….. karena aku merasa tida ada obyek yang dapat aku foto maka akupun segera pergi dari pantai itu.
Karena hari masih terang, maka aku putuskan untuk menuju Balikpapan Plaza untuk mencari bahan bacaan, dan ternyata harga buku di Balikpapan lebih mahal 1,5 kali dari Jakarta. Akhirnya ku pilihlah sebuah buku kecil yang harganya relatif murah.
Untuk sementara udah dulu yah… mo bobo, besok aku sambung lagi……..
Aku lanjutin yah…
Bukit Bengkirai
Selama seminar aku mencari-cari tahu mengenai Bukit Bengkirai dan Sungai Wein. Dari beberapa rekomendasi rekan asal
Kalimantan akhirnya aku putuskan untuk memprioritaskan Bukit Bengkirai, karena katanya disana view-nya lebih menarik ketimbang Hutan Sungai Wein. Akhirnya pada hari terakhir Seminar ku tinggalkan hotel pada pukul 10.30 WITA dengan mobil sewaan (ehhehehe tentunya dengan supir, karena aku tidak bisa mengendarai mobil). Jalan dari
Balikpapan ke Samboja sih mulus tapi selepasnya jalanan bergelombang dan rusak apalagi 5 kilometer memasuki pos pemeriksaan sudah jalan tanah, rusak pula, sehingga dapat dikatakan offroad abiss,….. Selama perjalanan aku banyak menemui pohon-pohon yang kering dan mati. Ilalang pun tingginya menyaingi pohon –pohon yang ada, menandakan sebenarnya lebih sedikit pohon tinggi ketimbang ilalang. Ku harapkan pohon-pohon yang ada di dalam hutan
sana jauh lebih besar dari pohon-pohon yang ada di Kebun Raya Bogor apalagi pohon-pohon yang aku lihat di jalanan. Masuk ke kawasan Hutan Bukit Bengkirai kutemukan penginapan yang bentuknya seperti rumah panjang. Di Bukit Bengkirai ini terdapat outbound training bagi pengunjung berkelompok yang berminat. Setelah membayar tiket untuk orang (Rp. 2.000/orang) dan mobil (Rp. 5.000/mobil) serta tiket untuk menaiki canopy bridge (Rp. 5.000/orang). Ditemani Pak Supri, supir mobil sewaanku aku menjelajahi Bukit Bengkirai. Ternyata Hutan Bukit Bengkirai tidak cukup terawat, terlihat pohon-pohon yang baru tumbang tidak disingkirkan dari jalanan pelancong. Alas, ternyata pohon-pohon besar seperti yang aku harapkan hanya dapat kulihat tergolek di tanah. Selebihnya adalah pohon-pohon berdiameter kecil. Akupun kesulitan menemukan burung disini. Bukankah hutan habitat bagi binatang-binatang. Setelah berjalan sekitar 5 kilometer, aku menemukan canopy bridge yang terletak 50 meter dari permukaan tanah. Karena Pak Supri sejak awal memilih tidak menaiki canopy bridge, maka akhirnya aku sendiri yang menaikinya. Di atas
Canopy Bridge aku bisa melihat pepohonan di hutan itu lebih leluasa. Tapi aku hanya melangkah sebanyak 3 langkah diatas canopy bridge, karena nyaliku ciut ketika berfikir harus menyeberangi 3 jembatan antar pohon lagi, sendirian pula….. hehehhe… Tapi alhamdulillah aku masih sempat membidik beberapa kali jepretan dari atas jembatan tersebut. Canopy bridge dibangun pada 5 pohon, terbuat dari kayu dan tali, kalau pohon tertiup angin maka jembatanpun mengikuti gerakan pohon, bergoyang-goyang.
September 9th, 2006 at 1:27 am
akhirnya sampai juga di borneo.. belum afdol kalo belum masuk hutan mah.. hehehe
masa judulnya paru2 dunia eh jalan2nya ke pantai.. kumaha atuh :-)) gpp yang penting udah injak kalimantan